Home / Nasional

Jumat, 22 Juli 2022 - 17:01 WIB

105 Tahun Adam Malik: Dari Wartawan Hingga Isu Mata-mata CIA

Adam Malik terlihat paling kanan, dalam foto yang diambil 5 November 1975 di depan Kedutaan Portugal di Roma, Italia, bersama Menteri Luar Negeri Portugal Ernesto Melo Antunes.

Adam Malik terlihat paling kanan, dalam foto yang diambil 5 November 1975 di depan Kedutaan Portugal di Roma, Italia, bersama Menteri Luar Negeri Portugal Ernesto Melo Antunes.

AMORFATIMEDIA.COM – Hari ini, 105 tahun silam atau 22 Juli 1917, Adam Malik dilahirkan. Dia adalah mantan wakil presiden ketiga Republik Indonesia. Sebelum itu, ia merupakan seorang wartawan yang juga menjadi diplomat ulung. Dia juga sempat diisukan sebagai mata-mata CIA.

Melewati empat zaman, Adam Malik tak lekang oleh waktu. Dalam buku Adam Malik Menembus Empat Zaman terbitan ANRI, disebutkan bahwa Adam Malik merupakan tokoh empat masa, yaitu masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, pemerintahan Sukarno, dan kekuasaan Soeharto.

Wartawan, Menteri Luar Negeri, Wakil Presiden

Sosok kelahiran Pematangsiantar seabad lebih silam ini juga dikenal karena ahli dan pintar bernegosiasi serta berdiplomasi baik di dalam ataupun di luar negeri. Putra dari pasangan Abdul Malik Batubara dan Salamah Lubis ini memang dikenal sejak kecil sebagai anak yang cerdik dan cerdas.

Bahkan, selain dipanggil Si Bung oleh anak, cucu dan kerabat dekatnya, Adam malik juga dijuluki “kancil” oleh Perdana Menteri, Amir Syarifudin karena kepintarannya.

Baca Juga :  Pawang Hujan MotoGP Mandalika Viral, Terungkap Cara Kerjanya

Sejak belia, dia sudah menaruh perhatian terhadap dunia politik. Pada 1934-1935, Adam Malik mulai masuk ke perpolitikan dengan memimpin Partai Indonesia (Partindo) Pematangsiantar.

Keinginannya untuk maju serta berbakti kepada bangsa mendorong Adam Malik untuk merantau ke Jakarta. Adam Malik muda berkarier sebagai wartawan di Jakarta. Dia adalah satu dari beberapa pendiri Kantor Berita Antara, sekarang Lembaga Kantor Berita Nasional Antara.

Pada masa penjajahan Jepang, Adam Malik juga aktif dalam gerakan pemuda untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Adam Malik menjadi anggota Dewan Pimpinan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) di Jakarta.

Sebagai seorang wartawan di harian Jepang yang bernama Domei, dia dapat dengan mudah mendapatkan akses informasi tentang keadaan dunia internasional di masa itu.

Dengan demikian Adam bisa memberikan masukan atau pendapat kepada tokoh-tokoh bangsa dalam semangat merebut kemerdekaan. Pada era 1945 hingga 1947, Adam Malik menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang bertugas menyiapkan susunan pemerintahan.

Baca Juga :  Presiden RI Batalkan Vaksin COVID-19 Berbayar

Pada saat yang bersamaan, dia juga mendirikan Partai Rakyat dan Partai Murba. Melalui kedua partai ini, pada pemilihan umum 1955, dia diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI).

Karier Adam Malik di dunia internasional pun menonjol. Berbagai jabatan pernah disandangnya, seperti Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Negara Uni Soviet dan Polandia.

Adam Malik juga pernah jadi Ketua Delegasi Republik Indonesia untuk perundingan Indonesia dengan Belanda mengenai wilayah Irian Barat di Washington D.C, Amerika Serikat.

Pada 1971, Adam Malik juga terpilih sebagai Ketua Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa ke-26. Adam Malik merupakan orang Indonesia pertama dan satu-satunya sebagai Ketua sidang majelis umum PBB hingga saat ini.

Selanjutnya: Dia pernah memimpin persidangan PBB…

Share :

Baca Juga

Nasional

Ini Pesan Ibu Guru Nani yang Viral tentang ‘Nilai Ujian Tak Penting’

Nasional

Dua Belas Jabatan Luhut Pandjaitan pada Era Pemerintahan Jokowi

Nasional

DPR Anggarkan Rp48,7 Miliar untuk Ganti Gorden dan Rp11 Miliar Pengaspalan Area Gedung

Nasional

Negara ini Mulai Panik Akibat Jokowi Larang Ekspor CPO

Nasional

Dokter Lois Owein dilepas Polisi setelah di periksa sejak Sabtu pekan lalu

Nasional

Google hingga WhatsApp Belum Daftar PSE ke Kominfo, Terancam Diblokir?

Nasional

Polisi Tangkap Terduga Pengeroyok Ade Armando

Nasional

Ini Ketentuan Soal Penyelesaian Penanganan Pegawai Non-ASN