Home / Dunia

Jumat, 13 Mei 2022 - 11:02 WIB

Barat dan Cina Bersaing Himpun Kekuatan, Kerja Sama Global Kian Rumit

Barat dan Cina Bersaing Himpun Kekuatan, Kerja Sama Global Kian Rumit

Barat dan Cina Bersaing Himpun Kekuatan, Kerja Sama Global Kian Rumit

AMORFATIMEDIA.COM – Beberapa bulan terakhir, negara-negara Barat yang utamanya dipimpin Amerika Serikat (AS) berusaha membentuk front persatuan guna mendukung Ukraina dalam bertahan melawan invasi Rusia.

Saat tengah intens mengoordinasikan upaya untuk menekan Moskow, pemerintah Barat juga mengawasi langkah diplomatik Cina, terutama upaya negara itu dalam memperkuat hubungan dengan negara-negara otokratis. Sejak Rusia memulai invasi ke Ukraina pada akhir Februari, negara-negara Barat telah berulang kali memperingatkan Beijing agar tidak memberikan bantuan militer ke Moskow.

Minggu ini, pejabat senior AS mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa mereka tidak melihat adanya dukungan “terbuka” dari Cina, baik secara militer dan ekonomi, kepada Rusia. Meski demikian, pemerintah Cina sejauh ini belum mengutuk tindakan Rusia di Ukraina.

Mitra-mitra ideal Beijing

Selama dua bulan terakhir, Beijing juga telah menyelenggarakan pertemuan tingkat tinggi dengan pemerintah militer di Myanmar. Menjanjikan kerja sama dan pertukaran di semua bidang, sekaligus menjadi tuan rumah pertemuan multinasional untuk membahas krisis kemanusiaan dan ekonomi yang dihadapi Afganistan.

Baca Juga :  Shin Tae-yong Merasa Indonesia Butuh 10 Tahun Untuk Bisa Kompetitif di Level Asia

Sejumlah ahli percaya bahwa stabilitas di negara-negara ini adalah kepentingan Beijing karena semua berbagi perbatasan darat dengan Cina. “Ada alasan alami bagi Beijing untuk berusaha merangkul mereka,” kata Ian Chong, ilmuwan politik dari National University of Singapore (NUS), Singapura.

Negara-negara ini tampaknya adalah mitra yang lebih ideal untuk Beijing karena kesepakatan yang dibuat dengan negara tersebut cenderung kurang mendapat pengawasan dan pertanyaan.

Menantang tatanan yang dipimpin AS

Dengan langkahnya baru-baru ini, Cina mengisyaratkan bahwa mereka memandang tatanan internasional yang dipimpin AS tidak lagi sah, demikian menurut Sari Arho Havren, peneliti tamu di Universitas Helsinki, Finlandia.

“Elit Partai Komunis Cina percaya bahwa mereka menawarkan bentuk pemerintahan yang unggul dengan stabilitas dan pembangunan ekonomi, dan baru-baru ini dengan bantuan penanganan COVID-19,” ujarnya kepada DW.

“Perkembangan langkah Cina dan tantangannya terhadap Amerika Serikat sebagai negara paling kuat di dunia dapat terasa utamanya di belahan bumi bagian selatan. Karena tidak menerima tatanan internasional saat ini, Cina menantangnya di tempat yang tidak terlalu merugikan dirinya sendiri,” tambah Havren.

Baca Juga :  Anak di Bawah 18 Tahun Wajib Tes Antigen Sebagai Syarat Perjalanan Antarprovinsi di Kepri

Bulan lalu dalam acara tahunan Boao Asia Forum, Presiden Cina Xi Jinping mengusulkan “inisiatif keamanan global” yang akan menjunjung prinsip “keamanan tak terpisahkan”. Menurutnya, dunia harus menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua negara, sambil memperhatikan masalah keamanan yang valid bagi semua.

“Kita harus menjunjung tinggi prinsip keamanan tak terpisahkan, membangun arsitektur keamanan yang seimbang, efektif dan berkelanjutan, dan menentang pembangunan keamanan nasional atas dasar ketidakamanan di negara lain,” kata Presiden Xi.

Rincian dari inisiatif yang diungkapkan oleh Xi Jinping masih belum jelas. Namun, Ivana Karaskova, pendiri dan pemimpin MapInfluenceEU, sebuah proyek yang memetakan pengaruh Cina dan Rusia di wilayah Eropa Tengah dan Timur, mengatakan bahwa inisiatif tersebut menargetkan negara-negara berkembang.

“Ini ditujukan untuk negara-negara berkembang dengan penekanan pada tahap pembangunan bersama atau pengalaman bersama dalam mengalami sejarah kolonialisme, dan menekankan prinsip-prinsip kedaulatan dan tanpa intervensi.”

Simak berita selanjutnya di halaman berikutnya.

Share :

Baca Juga

Dunia

Memanas! 2 Pria India Penggal Pendukung Penghina Nabi Muhammad

Dunia

Politikus Anti-Islam Bakar Al-Qur’an, Picu Kerusuhaan Besar di Swedia

Dunia

Arab Saudi Menerima Jemaah Haji Dunia Pertama dari Indonesia

Dunia

AS tangkap ketua Yakuza yang mencari rudal untuk pemberontak di Myanmar dan Sri Lanka

Dunia

WHO Akan Kaji Status Cacar Monyet

Dunia

G7 Sepakat Tinggalkan Energi Batu Bara pada 2035

Dunia

Bentrok dengan Polisi Israel di Masjid Al Aqsa, 67 Warga Palestina Terluka

Dunia

Miris! Pria Ini Bunuh Istri karena Ogah Diomeli