Home / Dunia

Kamis, 21 Juli 2022 - 16:04 WIB

Dapatkah Sri Lanka Pulih dari Keruntuhan Ekonomi?

Dana talangan dari Dana Moneter Internasional (IMF) akan sangat penting dalam menstabilkan keuangan Sri Lanka. CPA Media Co. Ltd/picture alliance

Dana talangan dari Dana Moneter Internasional (IMF) akan sangat penting dalam menstabilkan keuangan Sri Lanka. CPA Media Co. Ltd/picture alliance

AMORFATIMEDIA.COM – Presiden Sri Lanka Ranil Wickremesinghe dipilih untuk melanjutkan perannya oleh parlemen pada Rabu (20/07). Ia memiliki tugas besar dalam mengawal Sri Lanka keluar dari krisis ekonomi.

Ekonomi Sri Lanka menghadapi utang dan runtuh setelah kehabisan uang yang berimbas pada krisis pangan, bahan bakar dan obat-obatan. Krisis ini memicu protes selama berbulan-bulan.

Pemerintah Sri Lanka berutang 51 miliar dolar AS dan sedang berjuang untuk melakukan pembayaran bunga atas pinjaman tersebut, apalagi membayar pokok pinjaman.

Banyak analis menuding krisis terjadi akibat salah urus dan korupsi selama bertahun-tahun, termasuk pinjaman sembrono dari China yang digunakan untuk mendanai proyek infrastruktur yang berubah menjadi proyek besar yang sia-sia.

Krisis utang diperburuk oleh beberapa kesalahan kebijakan lainnya, termasuk pemotongan pajak dalam yang diperkenalkan hanya beberapa bulan sebelum COVID-19 melanda dan transisi tiba-tiba ke pertanian organik yang membuat hasil panen anjlok.

Penurunan besar dalam pendapatan pariwisata sebagai sumber devisa vital juga ditengarai memperburuk krisis. Sektor pariwisata Sri Lanka terdampak setelah serangan teroris pada Paskah 2019 dan selama pandemi.

Baca Juga :  Berbisnis dengan Sukses Ala Rasululah SAW

Ekonomi berada di jalur untuk berkontraksi sebanyak 8% tahun ini, sementara biaya banyak produk makanan dan bahan bakar telah meningkat tiga kali lipat dan mata uang telah runtuh hingga 80%.

Bisakah dana talangan IMF menjamin?

Prioritas pertama bagi pemerintah baru adalah merestrukturisasi utang besar Sri Lanka. Negosiasi untuk bailout dari Dana Moneter Internasional (IMF) sudah berlangsung tetapi Sri Lanka akan membutuhkan restrukturisasi lebih lanjut dari pinjaman IMF yang ada serta yang lain dari China, India dan Jepang.

Paket penyelamatan apa pun kemungkinan akan datang dengan ‘ikatan’, termasuk privatisasi perusahaan milik negara dan langkah-langkah penghematan yang lebih dalam.

“Kenyataannya adalah bahwa orang tidak dapat melakukan penghematan lagi,” ujar Ahilan Kadirgamar, seorang ekonom politik di Universitas Jaffna, kepada DW. “Banyak orang tidak memiliki bantalan sama sekali,” ungkapnya, seraya menambahkan bahwa hampir dua pertiga orang Sri Lanka bekerja di ekonomi informal.

Baca Juga :  Temuan Pansus LKPJ DPRD Karimun, PAD Karimun Terancam oleh Tambang Pasir

Kadirgamar skeptis tentang bailout IMF, mengatakan bahwa Kolombo akan berjuang untuk meningkatkan utang luar negeri ke depan karena biaya modal akan terlalu tinggi untuk negara yang baru saja gagal.

Lebih banyak bantuan diperlukan untuk ‘mencegah kelaparan’

Ekonom telah meminta Wickremesinghe untuk menggunakan pendapatan devisa Sri Lanka,yang katanya berjumlah 1,3 hingga 1,5 miliar dolar AS per bulan, untuk memprioritaskan impor kebutuhan pokok seperti makanan, bahan bakar dan obat-obatan yang masih kekurangan pasokan. Pemerintah juga harus meningkatkan pengeluaran defisit untuk mendanai bantuan lebih lanjut bagi masyarakat, di tengah meningkatnya ancaman kelaparan.

Pemerintahan Presiden sebelumnya, Gotabaya Rajapaksa telah memperbaiki beberapa kesalahan kebijakan yang memicu krisis. Tetapi Sri Lanka membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membantu mendorong pemulihan.

Selanjutnya: Stimulus pertanian diperlukan…

Share :

Baca Juga

Dunia

Reformasi Saudi dan Kemungkinan Normalisasi dengan Israel

Dunia

AS tangkap ketua Yakuza yang mencari rudal untuk pemberontak di Myanmar dan Sri Lanka

Dunia

Arab Saudi Menerima Jemaah Haji Dunia Pertama dari Indonesia

Dunia

Miris! Pria Ini Bunuh Istri karena Ogah Diomeli

Dunia

Siapakah Nupur Sharma, Penghujat Nabi Muhammad yang Picu Kemarahan Dunia

Dunia

Robot Masjidil Haram Bisa 11 Bahasa, Mudahkan Jemaah Haji dan Umrah

Dunia

Jangan Lewatkan Bulan Purnama Pink Muncul Akhir Pekan Ini

Dunia

G7 Sepakat Tinggalkan Energi Batu Bara pada 2035