Home / Opini

Kamis, 30 Juni 2022 - 11:52 WIB

Dokter Masa Kini: Altruisme atau Profesionalisme?

Ilustrasi Dokter. www.freepik.com

Ilustrasi Dokter. www.freepik.com

AMORFATIMEDIA.COM – Esensi dokter sebenarnya tidak ada yang berubah dari dulu. Tetap sama. Sejak zaman Hipocrates hingga kini, dokter bertugas merawat dan melayani orang sakit. Nilai etik yang dipegang juga relatif sama. Semua dokter tunduk pada standar etika profesi.

Saat melakukan pekerjaannya, mereka memegang teguh prinsip-prinsip etik: tidak membahayakan pasien (nonmaleficence), memberi kebaikan pasien (beneficence), menghormati hak pasien (autonomy), dan bersikap adil (justice).

Lain esensi, lain pula nilai intrinsik. Sejalan dengan perubahan era, nilai intrinsik yang diharapkan masyarakat terhadap dokter tampaknya akan berubah. Dulu, dokter selalu dituntut bersifat altruisme.

Altruisme merujuk kepada sifat yang selalu mendedikasikan kehidupan untuk orang lain, bahkan bisa mengorbankan kebutuhan diri sendiri (self-sacrifice). Bisa juga berarti sifat mulia untuk melayani dan memberi secara totalitas tanpa mengharap berlebih (go extra miles without expecting rewards).

Sedemikian kukuh tuntutan altruisme, menyebabkan masyarakat sering memilah kriteria dokter baik atau tidak hanya berdasarkan nilai ini. Dokter yang baik ialah dokter yang setia melayani pasien meski telah lewat jam kerja, mendatangani rumah pasien bila diminta, serta menerima berapa saja pembayaran atau bahkan menggratiskan pasien.

Makanya tidak mengherankan, dokter yang bekerja di pedalaman dan menarik tarif Rp1.000 per pasien amat dipuja-puja. Sebaliknya, masyarakat menilai negatif, bahkan menghujat dokter yang mengambil bayaran ‘banyak’, melakukan praktik di banyak tempat atau melakukan bisnis lain di luar profesi kedokteran.

Baca Juga :  Bahas Pemilu 2024, Nizar Datangi KPU Lingga

Masyarakat belum bisa menerima dokter terkesan komersial, termasuk mematok biaya tinggi untuk konsultasi dan tindakan. Mereka menuntut dokter bersikap altruisme: mudah didapat, mudah dimintai bantuan, dan ringan pembayarannya.

Perjalanan berliku

Perjalanan menjadi dokter merupakan kisah panjang dan berliku. Untuk menjadi dokter umum, seorang perlu bergulat dengan pendidikan dokter yang rigid dan serius selama 5-7 tahun. Periode ini 1,5 kali lipat lebih panjang jika dibandingkan dengan periode strata satu lain.

Setelah menjadi dokter, mereka perlu mengikuti ujian kompetensi dan menjalani internship selama 1 tahun. Setelah itu, mereka baru bisa mendapat registrasi dan dibolehkan praktik independen. Praktis diperlukan waktu 6-8 tahun untuk menjadi dokter yang bisa praktik mandiri.

Persoalannya, selama periode pendidikan tersebut, dibutuhkan sokongan finansial yang tidak kecil. Setiap fase dari periode panjang tersebut membutuhkan cuan: no free lunch.

Mungkin ada yang tidak percaya bahwa selain harus menjalani seleksi yang amat ketat dan melelahkan, untuk masuk fakultas kedokteran sejumlah institusi mengharuskan pembayaran antara Rp300 juta hingga Rp1 miliar.

Ini baru uang masuk, belum termasuk biaya semester, biaya pendidikan, dan biaya hidup. Syukur-syukur kalau pendidikannya selesai 5 tahun. Bila molor, biayanya bisa jadi dobel atau multiple.

Untuk menjadi dokter spesialis, perjalanannya lebih runyam lagi. Seleksinya amat ketat. Lulusan dokter yang tertampung pendidikan spesialis hanya berkisar 10%-30%. Sisanya berhenti sebagai dokter umum atau berkiprah di bidang lain.

Baca Juga :  Perbedaan Harga Indomie di Luar Negeri, Mulai dari Turki hingga Amerika

Untuk menjadi spesialis, bukan saja dokter harus ber-IP tinggi, melainkan juga punya modal dan sering kali perlu bekingan kuat. Modalnya harus gede, bila tidak, bakal runyam.

Makanya saat mendaftar, calon peserta kadang ditanya jumlah tabungan yang ada. Ada pendidikan spesialis yang uang masuknya saja sampai ratusan juta rupiah. Ini di luar biaya pendidikan lain dan biaya hidup.

Lama pendidikan spesialis sekitar 3-7 tahun. Selama periode pendidikan ini mereka bekerja di rumah sakit full-time tanpa insentif signifikan dari institusi pendidikan atau rumah sakit.

Lantas dari mana suplai finansial mereka? Ya dari bantuan orangtua, tabungan, menjual sawah, atau ngutang. Menjadi dokter memang merupakan perjalanan berat, berliku, dan mengharukan. Kalau mendengar ceritanya-ceritanya, dada kadang terasa sesak.

Lantas apa outcome pendidikan yang lama dan berliku? Lulusan dokter umum, hingga saat ini gradasinya disejajarkan dengan strata satu meski pencapaian SKS mereka jauh lebih banyak. Karena gradasinya dilevelkan demikian, reward terhadap mereka pun minim. Bahkan, boleh disebut miris.

Baru-baru ini ada iklan lowongan dokter…

Share :

Baca Juga

Opini

Apa Perbedaan antara ”Bundar” dan ”Bulat”

Opini

Mahasiswa Manja! Efek Kuliah Online

Opini

State of Emergency Jika Pemilu 2024 Ditunda
Dr. Radian Syam, SH.

Opini

Presidential Threshold dan Masa Depan Hukum Pemilu

Opini

Aturan Hukum LGBT di Indonesia, Bisa Dipidana?

Opini

Problematika Larangan Presiden terhadap Ekspor CPO dan Minyak Goreng

Opini

Menanti Langkah Lanjutan Luhut Pandjaitan Bereskan Sengkarut Minyak Goreng

Opini

Hanya Megawati yang Bisa “Meredam” Kim Jong Un