Home / Opini

Jumat, 20 Mei 2022 - 13:27 WIB

Dunia Dipenuhi Konflik Militer, Apa Kita Harus Menunggu Kemunculan Avatar?

Ilustrasi

Ilustrasi

AMORFATIMEDIA.COM – Selama tiga bulan terakhir, masyarakat internasional prihatin atas agresi militer Rusia terhadap Ukraina. Beberapa kawasan penting hancur. Ribuan warga mengungsi ke beberapa negara. Mereka meninggalkan semua harta benda miliknya demi menyelamatkan nyawa.

Salah satu alasan Moskow mengerahkan kekuatan militer karena Ukraina ingin menjadi anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Presiden Rusia Vladimir Putin khawatir kalau tetangganya itu akan membangun pangkalan militer dengan dukungan NATO.

Pada masa Perang Dingin, di Eropa dibentuk dua pakta pertahanan. Amerika Serikat bersama sekutunya mendirikan NATO. Sementara Uni Soviet mengajak sesama negara komunis membentuk Pakta Warsawa.

Baca Juga :  Parpol Mandul dan Mahasiswa Hanya Berisik di Medsos, Soe Hok Gie Ada Benarnya

Setelah Uni Soviet runtuh, Pakta Warsawa dengan sendirinya bubar. Sementara NATO tetap berdiri bahkan terus berusaha meluaskan pengaruhnya. Belakangan, Finlandia dan Swedia yang sebelumnya netral juga mendaftar sebagai anggota NATO.

Dari kejauhan, kita menyimak situasi terakhir seperti itu dengan rasa khawatir. Tentu setiap negara memiliki pilihan ingin bersekutu dengan pihak mana. Namun jika diperkirakan akan mengancam perdamaian, langkah seperti itu mesti mempertimbangkan juga persoalan-persoalan yang lebih luas.

Kekuatan militer yang berlebihan akan mengancam perdamaiaan. Jerman, ketika itu memiliki kekuatan militer yang hebat, kemudian melakukan ekspansi ke beberapa negara, pecahlah Perang Dunia II, perdamaian di Eropa terkoyak.

Baca Juga :  Rapor Merah Partai Politik Era Reformasi

Di kawasan Pasifik, Jepang juga pernah berada dalam posisi yang mirip. Tahun 1905, armada laut Jepang mengalahkan armada laut Rusia.

Kekuatan militer mendorong negara tersebut meluaskan invasi ke berbagai arah. Korea, Tiongkok, Filipina, dan Indonesia pernah berada di bawah kekuasaannya.

Perang Dunia II sudah lama berlalu, Uni Soviet sudah lama bubar. Mestinya umat manusia di seluruh dunia merasa aman. Kenyataannya tidak seperti itu.

Share :

Baca Juga

Opini

Argumentasi Kuasa Hukum Seyogianya Tidak Menyesatkan

Opini

Akuntabilitas Pengisian Penjabat Kepala Daerah

Opini

G.J. Resink Bongkar Mitos Indonesia Dijajah 350 Tahun oleh Belanda

Opini

Misteri Segitiga Bermuda dan Teori Keberadaannya

Opini

Rapor Merah Partai Politik Era Reformasi

Opini

Partai-partai Indonesia Ternyata Menjalin Kerja Sama dengan Partai Komunis Cina

Opini

Menakar Risiko Fiskal 2023

Opini

Urgensi Perlindungan Hukum Konsumen Pengguna Pinjaman Online