Home / Opini

Minggu, 5 Juni 2022 - 08:59 WIB

G.J. Resink Bongkar Mitos Indonesia Dijajah 350 Tahun oleh Belanda

Fotografen en cameramannen te Indonesia 1945-1949.

Fotografen en cameramannen te Indonesia 1945-1949.

AMORFATIMEDIA.COM – Sebuah ramalan begitu populer di Indonesia pada akhir masa pendudukan Jepang. Nujum itu, yang dikeluarkan oleh Jayabaya, penguasa Kerajaan Kediri yang bertakhta pada abad ke-12, menyebutkan bahwa kekuasaan bangsa kulit putih yang menduduki Jawa akan digantikan bangsa kulit kuning bertubuh pendek hanya seumur jagung (3,5 bulan).

Ramalan tersebut tentu saja dengan mudah dikaitkan dengan berakhirnya masa kekuasaan panjang kolonialisme Belanda dan masa pendudukan Jepang yang hanya 3,5 tahun. Pada Agustus 1945, kala Jepang telang lunglai dihajar bom atom Amerika Serikat, rakyat Indonesia seakan-akan tengah menanti “kuasa ramalan” Jayabaya itu.

Nujum Jayabaya hadir bersama mitos historis berskala besar dalam sejarah kolonialisme Belanda di Nusantara. Mitos itu telah menjelma sebagai memori bawah sadar bahwa negeri ini dijajah Belanda selama 350 tahun.

Baca Juga :  Arti Beras bagi Kehidupan Masyarakat Indonesia

Perdebatan mengenai durasi penjajahan Belanda tidak pernah benar-benar mendapatkan perhatian khusus dari para sejarawan sebelum G.J. Resink, ahli hukum internasional berdarah Belanda-Indonesia, mengangkat tema ini dalam karya monumentalnya, sebuah kumpulan tulisan bertajuk Indonesia’s History Between the Myths: Essays in Legal History and Historical Theory (1968).

Berbeda dengan pendekatan sejarah yang biasa dilakukan para sejarawan Barat kala itu, yang mengandalkan arsip-arsip “resmi” birokrasi kolonial, Resink membedah dokumen-dokumen hukum dan surat-surat perjanjian milik kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Hasil penelitiannya mengerucut pada kesimpulan bahwa Indonesia tidak dijajah Belanda selama tiga setengah Abad. Latar belakang keilmuannya membuat Resink berhasil memaparkan argumen mengenai hal ini lewat perspektif hukum internasional.

Negeri-negeri Merdeka di Hindia Belanda

Gertrudes Johannes Resink dilahirkan dari pasangan Thomas Gertrudes Johan Resink Sr. dan Annie J. Wilkens di Yogyakarta pada 1911. Pada mulanya ia mempelajari hukum konstitusi dan sempat menjadi guru besar mata kuliah hukum konstitusi di Universitas Indonesia antara 1947 (ketika masih bernama Universiteit van Indonesië) sampai 1976.

Baca Juga :  Peluang Kampanye Pemilu di Kampus

Ia mengisi posisi yang ditinggalkan Profesor Logemann, akademisi yang juga Menteri Urusan Tanah Jajahan dalam kabinet Schermerhorn.

Resink juga dikenal sebagai sastrawan karena banyak menghasilkan karya literatur berupa sajak dan syair. Beberapa syairnya yang berbahasa Belanda bahkan sempat diterjemahkan ke bahasa Perancis dan bahasa Indonesia.

Untuk urusan yang satu ini, Rob Nieuwenhuys, kritikus sastra Hindia Belanda, menganggap sajak-sajak Resink mengandung magis dan penuh dengan kepercayaan lama dari kebudayaan tempat ia tumbuh. Kumpulan sajaknya terbit dengan judul Kreeft en Steenbok (1963).

Kiprah Resink di dunia kesejaraha…

Share :

Baca Juga

Opini

Partai-partai Indonesia Ternyata Menjalin Kerja Sama dengan Partai Komunis Cina

Opini

Mindfulness dalam Ritual Beribadah di Bulan Ramadan

Opini

Rapor Merah Partai Politik Era Reformasi

Opini

Etnografi Maulid dan Ragam Islam Nusantara

Opini

Mengenal Tujuh Likur, Tradisi Bulan Ramadhan Masyarakat Melayu Lingga Kepri

Opini

Kutipan Bijak Sok Tahu “Kalau Orang Lain Bisa, Kita Pasti Bisa”

Opini

Filosofi Kopi dan Seni Memaknai Hidup

Opini

Menanti Langkah Lanjutan Luhut Pandjaitan Bereskan Sengkarut Minyak Goreng