Home / Dunia

Selasa, 21 Juni 2022 - 12:11 WIB

Ganja Thailand: Dari Perang Narkoba Hingga Sajian Kari Mariyuana

Seorang pria mengenakan setelan mariyuana berdiri dengan tanaman ganja dewasa di pameran legalisasi ganja, Jumat, (10/6/2022), di Buriram, Thailand.

Seorang pria mengenakan setelan mariyuana berdiri dengan tanaman ganja dewasa di pameran legalisasi ganja, Jumat, (10/6/2022), di Buriram, Thailand.

AMORFATIMEDIA.COM – Thailand bulan ini resmi melegalisasi penanaman dan konsumsi ganja sehingga praktis mengubah pendekatannya 180 derajat, mengingat selama ini negara tersebut menjatuhkan hukuman penjara atau bahkan hukuman mati kepada terpidana kasus narkoba.

Koresponden BBC di Asia Tenggara, Jonathan Head, melaporkan mengenai apa yang terjadi di balik perubahan dramatis ini.

Selama saya berkarier sebagai wartawan, ada suatu kejadian ekstrem yang sampai sekarang tertanam dalam benak saya. Insiden itu berlangsung 21 tahun lalu.

Saat itu, kami diundang menyaksikan dan merekam eksekusi lima tahanan oleh regu penembak di Penjara Bangkwan, Bangkok. Empat dari tahanan tersebut adalah terpidana penyelundup narkoba.

Raut wajah para pria itu selagi mereka berjalan dengan kedua kaki dirantai menuju paviliun tempat eksekusi diadakan adalah sesuatu yang tidak pernah saya lupakan.

Eksekusi tersebut merupakan bagian dari kebijakan “perang terhadap narkoba” yang dicanangkan perdana menteri kala itu, Thaksin Shinawatra. Kebijakan itu pula yang belakangan menjadi pembenaran atas pembunuhan ratusan tersangka kasus narkoba.

Kebijakan Thaksin saat itu menarik dukungan rakyat Thailand. Mereka khawatir dampak buruk narkoba seperti sabu akan menjalar ke berbagai komunitas sehingga bersedia mengabaikan pelanggaran HAM yang disebabkan oleh rangkaian pembunuhan tersebut.

Baca Juga :  Memanas! 2 Pria India Penggal Pendukung Penghina Nabi Muhammad

Negara lain di kawasan Asia Tenggara mengikuti pendekatan serupa, terutama Filipina setelah Presiden Rodrigo Duterte menjabat pada 2016. Singapura dan Malaysia telah lebih dulu menerapkan hukuman mati atas kasus penyelundupan narkoba selama berpuluh tahun.

Para wisatawan mancanegara yang datang ke kawasan ini sudah diperingatkan hukuman yang menanti jika mereka kedapatan membawa narkoba, tak peduli apakah itu hanya sejumput mariyuana. Kala itu sulit dibayangkan bahwa Thailand akan melegalisasi ganja.

Pemandangan di Thailand berubah

Selama lebih dari sepekan terakhir, pemandangan di Thailand benar-benar berubah. Ada berbagai kafe dan lapak secara terbuka menjual beragam produk ganja dan menampilkan stoples-stoples berisi bunga mariyuana.

Ada pula sejumlah nenek yang terkekeh saat mencoba minuman cannabis berwarna hijau serta antrean warga yang ingin mendapatkan satu dari sejuta tanaman ganja yang dibagikan pemerintah Thailand secara cuma-cuma.

Aturan baru ini menjadikan Thailand mungkin sebagai negara dengan pendekatan paling liberal terhadap mariyuana. Untuk saat ini, warga Thailand bisa menanam dan mengonsumsi tanaman ganja sebanyak mungkin, meski ada beberapa batasan mengenai cara penjualan.

Baca Juga :  Drummer Rolling Stones Meninggal pada usia 80 tahun
Menurut departemen pemasyarakatan Thailand, 3.000 orang telah dibebaskan dari penjara setelah ditahan atas kejahatan terkait ganja sejak undang-undang tersebut diubah minggu ini.

“Satu hal yang jelas, Anda tidak lagi bisa dipenjara di Thailand karena menggunakan ganja,” kata Tom Kruesopon, salah satu pengusaha perintis yang membantu meyakinkan pemerintah untuk mengubah pendekatan.

“Anda bisa dipenjara karena melakukan hal lain, seperti mengisap [ganja] di tempat umum, mengganggu ketertiban umum, atau menciptakan dan menjual produk dari mariyuana yang tidak mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan. Namun, Thailand adalah negara pertama di dunia yang tidak memenjarakan orang karena menanam atau menggunakan tanaman [ganja],” jelas Tom.

“Ini seperti mimpi bagi kami. Kami tidak pernah mengira kami bisa sejauh ini di Thailand,” ujar Rattapon Sanrak, orang yang memulai kampanye legalisasi mariyuana setelah mengalami manfaat medisnya saat mengenyam pendidikan di Amerika Serikat.

Dua kakek-neneknya, ayahnya, dan kemudian ibu Rattapon meninggal akibat kanker. Saat kembali ke Thailand dari AS untuk merawat ibunya, dia mencoba membujuk sang ibu untuk menggunakan produk ganja untuk meringankan sakitnya.

Upaya Rattapon gagal kala itu. Lagipula dia kesulitan mendapat akses ganja medis yang saat itu digolongkan sebagai zat ilegal.

Apa alasan Thailand melegalisasi ganja?

Share :

Baca Juga

Dunia

Dapatkah Sri Lanka Pulih dari Keruntuhan Ekonomi?
Charlie Watts

Dunia

Drummer Rolling Stones Meninggal pada usia 80 tahun

Dunia

G7 Sepakat Tinggalkan Energi Batu Bara pada 2035

Dunia

Robot Masjidil Haram Bisa 11 Bahasa, Mudahkan Jemaah Haji dan Umrah

Dunia

Barat dan Cina Bersaing Himpun Kekuatan, Kerja Sama Global Kian Rumit

Dunia

Bikin curiga Rusia, Jurnalis Rusia Temukan Indomie di Bekas Markas Pasukan Ukraina

Dunia

WHO Akan Kaji Status Cacar Monyet

Dunia

Macron: Melarang wanita muslim Prancis mengenakan jilbab akan picu perang saudara