Home / Opini

Rabu, 15 Juni 2022 - 10:01 WIB

Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita

KH Agus Salim. detikcom

KH Agus Salim. detikcom

AMORFATIMEDIA.COM“Leiden is lijden!”. Memimpin adalah Menderita. Begitulah bunyi pepatah kuno Belanda yang dikutip oleh Mohammad Roem dalam karangannya berjudul “Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita” (Prisma No 8, Agustus 1977).

Roem mengutip pepatah Belanda tersebut bukan tanpa alasan. Namun ada suatu bentuk hubungan kausalitas yang kuat antara kepemimpinan dan penderitaan itu sendiri. Dalam tulisannya Roem mencoba menggambarkan betapa zuhudnya laku hidup seorang Agus Salim.

Bagi Roem kondisi kehidupan Agus Salim di luar dari apa yang dibayangkannya. Sebagai seorang tokoh berpengaruh, hidup berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain sudah jadi kebiasaan. Tak jarang ketika hujan datang atap rumah kontrakan bocor.

Bersama anak-anaknya, Agus Salim menampung air hujan dalam baskom yang kemudian digunakan untuk main kapal-kapalan. Kemelaratan diupayakan tetap dihiasi dengan kegembiraan. Begitulah cara bagi seorang Agus Salim mengajarkan arti kesederhanaan kepada anak-anaknya.

Baca Juga :  Jaga Ekosistem Laut Kepri, Lantamal Tanjungpinang Tanam 1500 Mangrove

Kisah hidup Agus Salim tersebut terdengar begitu romantik dan nyaris utopis. Kisah Agus Salim tadi terdengar seperti seorang pertapa atau orang suci yang sudah selesai dengan perkara-perkara yang bersifat duniawi. Terdengar seperti kisah dongeng ataupun pewayangan. Namun sayangnya semua kisah tersebut benar adanya.

Dalam konsepnya yang ideal, pemimpin sering kali tampil heroik, berwibawa dan tidak mengenal rasa takut. Pemimpin sering kali digambarkan sebagai juru selamat yang akan menyelamatkan rakyatnya dari kesengsaraan dan penderitaan. Terkadang juga terdengar klenik seperti juga mampu menyembuhkan penyakit.

Mitologi terkait Kesatrio Piningit adalah salah satu kisah kepemimpinan yang dimitoskan Tentu saja imaji yang terbangun dalam angan-angan rakyat bisa saja berbeda-beda, tapi satu kesamaannya yang jelas: semuanya menggambarkan sosok yang sempurna dan hampir adimanusia.

Indonesia sebagai negara yang menganut retorika demokrasi untuk mewujudkan pemerintahan yang dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat sejatinya harus menjadikan diktum tersebut sebagai prinsip yang elementer dalam bernegara.

Dalam konteks ini, para pemimpin yang akan mengisi kursi di pemerintahan selaku pejabat yang memangku jabatan dalam fungsinya sebagai penyelanggara negara haruslah melewati mekanisme yang konstitusional terlebih dahulu, yakninya dipilih melalui pemilihan umum.

Baca Juga :  Dimulai 14 Juni, Ini Tahapan Lengkap Pemilu 2024

Mekanisme yang ditempuh–idealnya tentu saja, harus dapat berlangsung secara jujur dan adil. Pemimpin yang lahir dari cara-cara yang demokratis diharapkan mampu membaca dan menyuarakan dengan fasih setiap kehendak rakyat yang memberi mandat kepadanya.

Mandat yang lahir dari rahim rakyat adalah amanat yang harus diterima sebagai sesuatu yang sakral dan suci. Hanya dengan cara menanam konsep dan keyakinan yang demikianlah cita-cita untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dapat terwujud.

Melalui rincian gaji dan tunjangan anggota DPR…

Share :

Baca Juga

Opini

Etnografi Maulid dan Ragam Islam Nusantara

Opini

Mindfulness dalam Ritual Beribadah di Bulan Ramadan

Opini

Menakar Risiko Fiskal 2023

Opini

Apa Perbedaan antara ”Bundar” dan ”Bulat”

Opini

Dunia Dipenuhi Konflik Militer, Apa Kita Harus Menunggu Kemunculan Avatar?

Opini

Menanti Langkah Lanjutan Luhut Pandjaitan Bereskan Sengkarut Minyak Goreng

Opini

Parpol Mandul dan Mahasiswa Hanya Berisik di Medsos, Soe Hok Gie Ada Benarnya

Opini

Terapi Shalat untuk Penderita Stroke