Home / Opini

Sabtu, 21 Mei 2022 - 13:21 WIB

Hanya Megawati yang Bisa “Meredam” Kim Jong Un

Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri bergandengan tangan dengan Presiden Korea Sealtan Yoon Suk-yeol saat keduanya bertemu di Istana Kepresidenan Korea Selatan, Seoul, Rabu (11/5/2022).(Dokumentasi/PDI-P)

Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri bergandengan tangan dengan Presiden Korea Sealtan Yoon Suk-yeol saat keduanya bertemu di Istana Kepresidenan Korea Selatan, Seoul, Rabu (11/5/2022).(Dokumentasi/PDI-P)

AMORFATIMEDIA.COM – Jangan pernah remehkan perempuan karena dia bisa mengubah dunia
Jangan pandang karena gender semata tanpa paham kelebihannya
Bisa jadi, cara dan kiatnya kita sangsikan
Tetapi dipandang dunia dengan decak kagum

Adu nyalak senjata bukanlah cara penyelesaian
Saling bunuh sesama kerabat bukanlah cara beradab
Utara dan Selatan hanyalah batas fana di atas peta
Menjalin tali keluarga mengekalkan budaya menjadi asa

Memilin jalan berliku di antara batas 38 derajat lintang utara
Membelah Korea menjadi dua yang berbeda
Berharap sangat menjadi satu karena mereka bersaudara
Di jalanmu lah mereka berharap reunifikasi menjadi nyata

Sajak yang saya tulis dengan spontan ini, saya beri judul: “Mega Sang Penyatu” sebagai apresiasi saya atas sanjungan yang diberikan Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol terhadap Presiden kelima Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri.

Hanya sosok Megawati yang bisa diterima oleh Korea di belahan Selatan maupun di Utara.

Tidak hanya Presiden Yoon, kalangan parlemen Korea Selatan tetap berharap putri Bung Karno itu menjadi utusan khusus Pemerintah Korea Selatan untuk menciptakan perdamaian abadi di Semenanjung Korea (Kompas.com, 11/05/2022).

Baca Juga :  Problematika Larangan Presiden terhadap Ekspor CPO dan Minyak Goreng

Secara khusus, Ketua Umum PDI Perjuangan tersebut bersama Wakil Presiden Tiongkok Wang Qishan, Presiden Singapura Halimah Yacob, Presiden Afrika Tengah Faustin Archange Touadera, Mantan Perdana Menteri Jepang Yukio Hatoyama dan Douglas Emhoff suami Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris diundang Presiden Yoon Suk-yeoul untuk menghadiri pelantikannya di plaza depan Gedung Parlemen Korea Selatan di Seoul, Selasa (10/5/2022).

Menariknya, presiden baru Korea Selatan itu menyebut nama panjang Megawati sembari menambahkan kata “Yang Mulia” dalam pidato pelantikannya. Sebuah penghargaan tersendiri sekaligus tugas sejarah yang harus diemban Megawati.

Tidak salah jika Korea Selatan menaruh harapan besar kepada Megawati untuk menjadi “jembatan” rekonsiliasi di Semenanjung Korea.

Inisiatif PBB bahkan mediasi negara-negara adidaya yang dekat secara “ideologis” dengan Korea Utara seperti Tiongkok dan Rusia atau yang sepaham dengan Korea Selatan, misalnya, Amerika Serikat dan Jepang hingga saat ini mengalami kebuntuan.

Sikap “keras” para pemimpin Korea Utara seperti Kim Jong Un atau ayahnya mendiang Kim Jong il yang tidak membuka pintu kompromi dengan langkah inisiatif perdamaian dari kalangan internasional menjadikan rekonsiliasi di Semenanjung Korea menjadi mimpi berkepanjangan.

Baca Juga :  Mudik Dibolehkan, Presiden Imbau Masyarakat Vaksin

Upaya Presiden AS Donald Trump yang berhasil mengajak Kim Jong Un di Singapura (2018) dan Vietnam (2019) namun gagal merumuskan kesepakatan kongkret adalah upaya terakhir Korea Utara membuka diri dengan “luar”.

Korea Utara begitu mengisolasi diri. Ibu Kota Pyongyang begitu menjadi kota “tertutup” bagi orang asing.

Saya yang pernah ikut dalam rombongan muhibah Megawati ke Pyongyang pada 2005 dan 2006 harus menggunakan pesawat charter dari Beijing karena maskapai yang reguler menerbangi Pyongyang dengan negara luar hanya Air Koryo, maskapai milik pemerintah Korea Utara.

Air Koryo membuka trayek Beijing – Pyongyang PP seminggu sekali serta Pyongyang – Vladivostok di Rusia.

Beijing dan Vladivostok menjadi jalan masuk atau jalan ke luar dari Korea Utara. Sementara jalur kereta api Pyongyang – Beijing telah lama dinonaktifkan apalagi saat pandemi Covid-19 tengah berkecamuk.

Share :

Baca Juga

Opini

Problematika Larangan Presiden terhadap Ekspor CPO dan Minyak Goreng

Opini

Aturan Hukum LGBT di Indonesia, Bisa Dipidana?

Opini

Masa Depan Agama di Era Internet, Sains, dan Kemajuan Teknologi

Opini

Filosofi Kopi dan Seni Memaknai Hidup

Opini

Menakar Risiko Fiskal 2023

Opini

Partai-partai Indonesia Ternyata Menjalin Kerja Sama dengan Partai Komunis Cina

Opini

Dokter Masa Kini: Altruisme atau Profesionalisme?

Opini

Terapi Shalat untuk Penderita Stroke