Home / Islam Digest

Senin, 6 Juni 2022 - 10:06 WIB

Kisah Azan Terakhir Bilal Bin Rabah yang Menggetarkan Madinah

Ilustrasi Bilal bin Rabah, azan yang Menggetarkan Madinah. detikcom

Ilustrasi Bilal bin Rabah, azan yang Menggetarkan Madinah. detikcom

AMORFATIMEDIA.COM – Haji Wada’ (harfiah: perpisahan) merupakan ibadah haji terakhir yang dilaksanakan Rasulullah Muhammad SAW. Sebab, beberapa waktu kemudian, kondisi fisik beliau mulai memburuk. Sakit Nabi SAW kian parah. Akhirnya, beliau menghembuskan nafas terakhirnya.

Seluruh kaum Muslimin amat berduka cita. Bahkan, Umar bin Khaththab sempat mengingkari kepergian Rasulullah SAW untuk selamanya. Hingga Abu Bakar tiiba menenangkannya dan menjelaskan, Rasul-Nya pun akan merasakan maut–sebagaimana diisyaratkan di dalam Alquran.

Saat jasad Rasulullah SAW menjelang dimakamkan, Bilal bin Rabah berdiri untuk mengumandangkan azan. Tiba di lafazh asyhadu anna Muhammad rasuulullah (‘Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah‘), suaranya terbata-bata.

Kesedihan menguasai dirinya. Segenap kaum Muslim pun menangis. Mereka menyadari, sosok mulia yang teramat dicintai itu telah meninggal dunia.

Baca Juga :  Mengapa Sholat Lima Waktu Begitu Istimewa dalam Islam, Simak Alasannya!

Mata pria berkulit hitam, legam dan kekar itu berkaca-kaca. Air mata deras menetes di pipinya. Dengan suara lirih dia berkata, “Aku tak bisa, Umar. Aku tak akan mampu melakukannya lagi.”

Bilal bin Rabbah sang Muadzin Rasul menatap lawan bicaranya yang tak lain adalah Khalifah kedua pengganti Rasulullah SAW setelah Abu Bakar As Siddiq, Umar bin Khatab. Sang Khalifah sengaja menemui Bilal yang saat itu sudah meninggalkan Madinah dan menetap di Syam, kini Suriah.

Kedatangan Umar adalah menyampaikan keinginan penduduk Madinah agar Bilal mau mengumandangkan adzan lagi. Ini untuk mengobati kerinduan penduduk Madinah atas Rasulullah SAW.

Sekali lagi Bilal berkata lirih,”aku tak akan sanggup Umar.” Air mata kian deras mengalir di pipinya. Sesekali, Bilal memejamkan mata. Dia tarik napasnya dalam-dalam.

Baca Juga :  Raja Haji Fisabilillah, Pahlawan Nasional Asal Kepri yang Dianggap Viking oleh Belanda

Umar terus membujuk Bilal. “Tapi, ummat muslim di Madinah sedang membutuhkanmu, Bilal. Mereka ingin mendengarkanmu mengumandangkan adzan. Mereka rindu suaramu. Mereka rindu lantunan adzanmu, wahai muadzin Rasulullah!” kata Umar seperti dikutip dari Islami.co.

Mata Bilal kian berkaca-kaca. Dia menangkap harapan Umar yang begitu besar agar dia mau mengumandangkan adzan lagi di Madinah. Apalagi Umar sampai menempuh jarak yang begitu jauh dari Madinah ke Suriah.

Namun, berat bagi Bilal. Dia tak sanggup menanggung rindu teramat dalam jika mengingat Madinah dan mengumandangkan adzan. Bilal tak mampu menanggung rasa rindu terhadap Rasulullah yang teramat berat.

Bagi Bilal, hari di mana Rasulullah wafat…

Share :

Baca Juga

Islam Digest

Qiyamul Lail di Bulan Ramadhan, Diangkatnya Derajat Hingga Disediakan Surga

Islam Digest

Iblis Marah, Ini yang dilakukannya di Hari Raya Idul Fitri

Islam Digest

Mengulik Burung dalam Alquran, Burung Hud-Hud

Islam Digest

Bayar Utang Puasa Dulu atau Puasa Syawal? Begini Penjelasannya

Islam Digest

Manfaat Sholat Tahajud Disertai Tata Caranya

Islam Digest

Doa Akhir Tahun Hijriyah dan Awal Tahun Serta Keistimewaannya

Islam Digest

Doa Hasan al-Bashri di Bawah Kilatan Pedang Algojo Irak

Islam Digest

Mengapa Nabi Muhammad SAW Terpilih Sebagai Nabi dan Rasul Terakhir?