Home / Opini

Sabtu, 21 Agustus 2021 - 09:30 WIB

Mahasiswa Manja! Efek Kuliah Online

Ilustrasi Kuliah Online (Foto: Pixabay/ Alexandra_Koch)

Ilustrasi Kuliah Online (Foto: Pixabay/ Alexandra_Koch)

AMORFATIMEDIA.COM – Mahasiswa menjadi klien yang berharga, bukannya pembelajar, mereka mendapatkan kepercayaan diri besar tetapi sedikit ilmu.

Buruk lagi, mereka tidak mengembangkan kebiasaan berpikir kritis yang bisa menjadi bekal mereka untuk terus belajar (Nichols, 2017: The Dead of Expertise).

Argumen Nichols tentu menjadi tamparan telak bagi sebahagian mahasiswa yang sampai saat ini tidak lagi menggunakan nalarnya.

Matinya nalar itu pada akhirnya akan menyeret mahasiswa ke dalam jurang ketersesatan kemudian universitas atau perguruan tinggi hanya akan menghasilkan calon tenaga kerja dengan kualitas rendah bahkan kemungkinan “sukses” menjadi pengangguran.

Baca Juga :  Akuntabilitas Pengisian Penjabat Kepala Daerah

Tidak berkembangnya kreativitas akibat nalar yang “jongkok” merupakan dampak tidak berkembangnya kognitif mahasiswa.

Manusia purba jenis Homo Sapiens dapat bertahan hidup dengan kondisi lingkungan tertentu karena mengalami revolusi kognitif sehingga mereka memiliki kemampuan untuk berkomunikasi (Harari, 2017 Sapiens).

Kemampuan itu kemudian membuat kelompok manusia purba ini bertahan di berbagai kondisi wilayah.

Tentu saja kurang tepat menyandingkan mahasiswa dengan manusia purba tetapi hal itu bisa saja terjadi apabila kreativitas mahasiswa yang merupakan hasil kognisi tidak berkembang sejak mereka tamat dari pendidikan Sekolah Menengah Atas.

Pemerintah Hindia Belanda juga pernah mencoba untuk mengurung kognisi bangsa Indonesia dengan mengeluarkan kebijakan Politik Etis.

Baca Juga :  Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita

Salah satu kebijakan yang diberikan kepada bangsa Indonesia yakni membuka sekolah khusus kaum bumi putra, saya lebih suka menggunakan istilah ini dibandingkan pribumi- sederhananya Belanda ingin melakukan balas budi kepada Indonesia yang terus menyuplai kas negara melalui program-program kolonialisasinya.

Masyarakat tentu saja senang dengan hal tersebut tetapi Belanda memiliki tujuan lain yakni menghasilkan tenaga kerja murah dari sekolah-sekolah kaum bumi putra.

Program itu cukup berhasil dan menghasilkan tenaga kerja yang kognisinya dikurung dan dapat dibayar murah.

Share :

Baca Juga

Opini

Masa Depan Agama di Era Internet, Sains, dan Kemajuan Teknologi

Opini

Apa Perbedaan antara ”Bundar” dan ”Bulat”

Opini

Menjaga “Nyala Api” Pemikiran Buya Syafii Maarif

Opini

Dunia Dipenuhi Konflik Militer, Apa Kita Harus Menunggu Kemunculan Avatar?

Opini

Kutipan Bijak Sok Tahu “Kalau Orang Lain Bisa, Kita Pasti Bisa”

Opini

Etnografi Maulid dan Ragam Islam Nusantara

Opini

G.J. Resink Bongkar Mitos Indonesia Dijajah 350 Tahun oleh Belanda

Opini

Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita