Home / Opini

Jumat, 17 Juni 2022 - 17:21 WIB

Masa Depan Agama di Era Internet, Sains, dan Kemajuan Teknologi

Ilustrasi Freepik

Ilustrasi Freepik

AMORFATIMEDIA.COM – Bila pernah menonton film The Matrix, mungkin mudah menangkap kegelisahan tentang kudeta robot dengan kecerdasan buatan atas penciptanya. Itulah revolusi industri keempat yang lazim disebut Industri 4.0.

Disebutkan bahwa industri 4.0 mengubah ekonomi, pekerjaan, dan bahkan masyarakat itu sendiri. Industri 4.0 menggabungkan banyak teknologi fisik dengan teknologi digital melalui analitik, kecerdasan buatan, teknologi kognitif, dan Internet of Things (IoT) untuk menciptakan perusahaan digital yang saling terkait dan mampu menghasilkan keputusan yang lebih tepat.

Revolusi ini menanamkan teknologi yang cerdas dan terhubung tidak hanya di dalam perusahaan, tetapi juga kehidupan sehari-hari kita. Ia mengubah dunia manusia secara revolusioner dalam prilaku, kecenderungan dan pandangan, termasuk agama.

Bagaimana nasib agama yang dianggap sebagai warisan era purba sebelum industri pertama? Ada yang gelisah dan berjuang melawan sains. Ada yang menyerah dan membuang agama.

Baca Juga :  Presidential Threshold dan Masa Depan Hukum Pemilu

Dunia intelektual seolah bergertar dan sebagian warga bumi terkesima oleh kecemasan dan ramalan menakutkan yang dilukiskan secara dramatikal tentang ancaman terhadap peradaban manusia akibat tiga faktor utama, yaitu perang nuklir, perubahan iklim atau keruntuhan ekologis dan gangguan teknologi dan biologi.

Setelah dicekam kecemasan, manusia modern yang tersandera oleh bencana sains dan teknologi digital dikejutkan oleh sebuah tawaran solusi radikal, yaitu membuang agama yang dianggapnya sebagai kekuatan negatif penyebab kesintingan temurun.

Karuan saja, namanya mendunia dan tiga bukunya jadi best seller. Yuval Noah Harari seolah dinobatkan sebagai reinkrnasi Hawkings sang saintis dan Tofler sang peramal.

Pandangan anti Tuhan dan agama sudah banyak dikemukan oleh para pemikir seperti Nietzche, Sartre, Camus dan saintis Barat seperti Hawkings penulis A Brief History of Time dan Richard Dawkins, penulis The Selfish Gene dan The Magic of Reality.

Namun pandangan professor di Hebrow University bias dianggap sebagai pemikir zaman now yang mampu mengungkap kecemasan manusia di zaman serba computer ini dalam tiga karyanya, Sapiens dan Homo Deus juga 21 Lessons.

Baca Juga :  Siap-siap! Tenaga Honorer Resmi Dihapus 28 November 2023

Harari berharap bahwa 21 pelajaran akan membantu orang-orang untuk memiliki kejelasan dan kesadaran lebih tentang apa yang sedang terjadi di dunia saat ini.

Harari mengkritik semua agama sebagai arogan, penuh dengan ketidakkonsistenan dan secara fundamental sebagai kekuatan negatif.

Menurutnya, semua teks suci ini ditulis oleh Homo sapiens yang imajinatif. Itu hanya kisah-kisah yang diciptakan oleh nenek moyang kita untuk melegitimasi norma-norma sosial dan struktur politik.

Dia menyarankan untuk melihat apa itu dan membuang kepercayaan salah agama-agama institusional.

Dunia Barat yang tak percaya Tuhan…

Share :

Baca Juga

Opini

Problematika Larangan Presiden terhadap Ekspor CPO dan Minyak Goreng

Opini

Kenali Pemahaman Healing yang Tepat

Opini

Kenaikan Harga BBM dan Jeritan Masyarakat Menengah ke Bawah

Opini

Tangkap Predator Seksual

Opini

Habis Manis, Puntung Rokok Dibuang Sembarangan

Opini

G.J. Resink Bongkar Mitos Indonesia Dijajah 350 Tahun oleh Belanda

Opini

Penjaga Perdamaian PBB dan Peran Pasukan Indonesia di Dalamnya

Opini

State of Emergency Jika Pemilu 2024 Ditunda