Home / Opini

Jumat, 3 Juni 2022 - 16:24 WIB

Membaca Pacar Merah, Novel Petualangan dari Pahlawan yang Termajinalkan

Tan Malaka © Zulfikar Efendi/Flickr

Tan Malaka © Zulfikar Efendi/Flickr

AMORFATIMEDIA.COM – Memiliki nama asli Sutan Ibrahim. Dia bergelar Datuk Tan Malaka yang diberikan dalam sebuah upacara adat, gelar ini menunjukkan bahwa dia adalah orang istimewa. Tan Malaka salah satu tokoh awal yang mewacanakan tentang republik.

Tan Malaka menghabiskan masa hidupnya untuk bergerilya. Di dalam negeri, dia bergerak dari Bukittinggi, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, sampai Kediri. Sementara di luar negeri, dia berjuang di Amsterdam, Berlin, Moskow, Saigon, Bangkok, sampai Manila.

Penggambaran petualangan Tan Malaka ini diperlihatkan dalam sebuah roman sejarah berjudul Pacar Merah Indonesia: Petualangan Tan Malaka Menjadi Buron Polisi Kolonial (1938) karya Matu Mona.

Novel ini serupa dengan roman petualangan yang memikat, lengkap, dengan spionase, nuansa perjuangan, aroma politik, dan disertai romantika. Oleh Matu Mona kisah sejarah ini, ditulis dalam bentuk karya fiksi.

Pacar Merah Indonesia memang membubuhkan beberapa fakta sejarah tentang gerakan komunis dan kiri radikal, terutama tentang beberapa tokohnya dengan khayalannya sendiri. Sehingga ada beberapa pemimpin komunis terkenal yang masuk dalam novel ini.

Baca Juga :  Bikin Kejutan! Klub Futsal Atta Halilintar Gaet Dewa Futsal Ricardinho

Muncul beberapa nama tokoh seperti Paul Musotte (Muso), Ivan Alminsky (Alimin), Darsonoff (Darsono), dan Semounoff (Semaun). Kelima tokoh ini dipimpin tokoh utama yang disebut sebagai Pacar Merah (Tan Malaka).

Dirinya seorang aktivis politik yang memperjuangkan kemerdekaan Tanah Airnya Indonesia dari kolonialisme Belanda, dan cita-cita sosialis-komunisnya. Oleh karena itu, dirinya harus terpaksa melarikan diri sehingga jadi buron polisi internasional.

Di Thailand, dirinya menggunakan nama Vichtira dan dalam pelariannya ini dia dibantu oleh Nona Ninon Phao, anak perempuan dari kepala polisi rahasia Thailand, Khun Phra Phao untuk bersembunyi di Senggora, sebuah kota kecil di negeri Siam.

Pacar Merah juga sempat ditangkap oleh pihak interpol akibat pengkhianatan yang dilakukan oleh tunangan Ninon Phao. Sebelum akhirnya dibebaskan kembali berkat bantuan dari tunangan Ninon Phao itu sendiri.

Langkah Pacar Merah tidak berhenti di negeri Siam, untuk menghindari dari penangkapan interpol, dia berpindah-pindah ke suatu negeri ke negeri lain, seperti Filipina, Kamboja, Hongkong, hingga China.

Baca Juga :  Asal-usul THR di Indonesia dan Protes para Buruh

Dalam setiap pelariannya itu, dia harus bersembunyi, baik itu di dalam kapal, di rumah seorang tokoh pergerakan, di loteng rumah atau di wilayah terpencil. Bahkan Pacar Merah harus menyamar sebagai perempuan tua dengan tiga anak.

Meskipun buron, Pacar Merah dapat turut menghadiri Konferensi Pertama Pan-Malay Peoples Union. Selain itu juga datang ke Konferensi Buruh Pasifik yang diadakan di China, di Kamboja, Pacar Merah ikut menyaksikan pemberontakan kaum radikal.

Novel ini juga mengisahkan tentang pertemuan antara Ivan Alminsky dengan Pacar Merah agar mau rujuk kembali dengan rezim komunis Moskow. Rupanya Pacar Merah dinilai telah bertindak semaunya sendiri.

Tetapi dalam pertemuan itu, Pacar Merah menolak untuk tunduk kepada Moskow. Dia berketetapan untuk terus berjuang bagi kemerdekaan Tanah Airnya dan bukan untuk kepentingan Moskow.

Tan Malaka dalam novel di halaman berikutnya 

Share :

Baca Juga

Opini

Apa Perbedaan antara ”Bundar” dan ”Bulat”

Opini

Mindfulness dalam Ritual Beribadah di Bulan Ramadan

Opini

Partai-partai Indonesia Ternyata Menjalin Kerja Sama dengan Partai Komunis Cina

Opini

Hanya Megawati yang Bisa “Meredam” Kim Jong Un

Opini

Arti Beras bagi Kehidupan Masyarakat Indonesia

Opini

Dokter Masa Kini: Altruisme atau Profesionalisme?

Opini

Filosofi Kopi dan Seni Memaknai Hidup

Opini

Masa Depan Agama di Era Internet, Sains, dan Kemajuan Teknologi