Home / Opini

Kamis, 14 April 2022 - 12:45 WIB

Membiasakan Anak Untuk Berpuasa Bukan dengan Menyogok

Ilustrasi anak berpuasa/Int

Ilustrasi anak berpuasa/Int

AMORFATIMEDIA.COM – Salah satu cara orang tua untuk mendidik anak berpuasa adalah dengan menjanjikan sesuatu yang berbau materi. Misalnya dengan memberikan iming-iming berupa hadiah kesukaan atau uang agar anak mau berpuasa sehari penuh.

Cara seperti itu lazim terjadi, tapi tentunya bukan maksud untuk menyogok si anak supaya menjalankan puasa dengan dasar janji yang kita ucapkan. Lalu, apakah dengan cara menyogok anak untuk berpuasa, sekalipun itu hanya dalih untuk mengajarkannya berpuasa, dapat dibenarkan?

Sebetulnya saya menulis artikel ini dan pokok yang dibicarakan, terinspirasi dari video yang diunggah oleh Mbak Najeela Shihab di akun Facebooknya pada tanggal 29 Mei 2017 lalu. Mbak Najeela berdiskusi dengan ayahnya, Pak Quraish Shibab, perihal boleh atau tidaknya menyogok anak untuk mengajarkannya berpuasa.

Baca Juga :  Hati-hati Bakteri! Hindari Semangka Disimpan di Dalam Kulkas

Menyogok, menyuap, atau dalam bahasa kerennya gratifikasi adalah persoalan yang pelik. Hasan Al-Bashri, ulama dan cendekiawan muslim yang hidup pada masa kekhalifahan Umayyah pernah berkata, “Apabila sogok-menyogok telah masuk dari suatu pintu, maka amanah akan keluar lewat jendela”.

Adapun menyogok dalam konteks tulisan ini adalah memberikan sesuatu dalam bentuk materi sehingga anak terdorong berpuasa hanya untuk mendapatkan materi yang dijanjikan oleh orang tua. Bukan karena dorongan bahwa puasa itu adalah perintah Allah.

Kata Pak Quraish, hal itulah yang harus dihindari karena perbuatan tersebut merupakan sesuatu yang tidak wajar. Ibadah puasa adalah bukti keikhlasan kepada Tuhan, tujuannya bukan menuntut materi.

Baca Juga :  Dunia Dipenuhi Konflik Militer, Apa Kita Harus Menunggu Kemunculan Avatar?

Kemudian, beliau mengatakan bahwa membiasakan anak untuk berpuasa karena Allah itu baik. Kalau perlu, dilatih berpuasa setengah hari dulu, selama itu dilakukan dengan ikhlas. Yang terpenting coba ajarkan, bukan dijanjikan sesuatu dan belajar ikhlas.

Lain dengan anak yang telah akil baliq. Tentunya orang yang berpuasa dengan ikhlas akan menemukan kenikmatan tersendiri. Dalam agama, ada dua kenikmatan yang dirasakan oleh orang yang berpuasa. Pertama, kenikmatan ketika berbuka. Kedua, kenikmatan saat bertemu dengan Tuhan.

Mengapa kenikmatan-kenikmatan tersebut bisa dirasakan orang yang berpuasa? Karena orang yang berpuasa telah berhasil mengendalikan diri dan hawa nafsunya sendiri. Ibadah puasa adalah seperempat bagian dari iman.

Share :

Baca Juga

Opini

Kenali Pemahaman Healing yang Tepat

Opini

Rapor Merah Partai Politik Era Reformasi

Opini

Dokter Masa Kini: Altruisme atau Profesionalisme?

Opini

Urgensi Perlindungan Hukum Konsumen Pengguna Pinjaman Online

Opini

Arti Beras bagi Kehidupan Masyarakat Indonesia

Opini

Kutipan Bijak Sok Tahu “Kalau Orang Lain Bisa, Kita Pasti Bisa”

Opini

Partai-partai Indonesia Ternyata Menjalin Kerja Sama dengan Partai Komunis Cina

Opini

Filosofi Kopi dan Seni Memaknai Hidup