Home / Opini

Rabu, 20 April 2022 - 06:55 WIB

Mengenal Tujuh Likur, Tradisi Bulan Ramadhan Masyarakat Melayu Lingga Kepri

Pintu Gerbang Tujuh Likur yang berbentuk masjid dibuat pintu,  tingkap, dan ukiran dengan cara ditebuk pada bagian dinding kertas. Foto: Istimewa

Pintu Gerbang Tujuh Likur yang berbentuk masjid dibuat pintu,  tingkap, dan ukiran dengan cara ditebuk pada bagian dinding kertas. Foto: Istimewa

AMORFATIMEDIA.COM – Dalam setahun sekali umat Islam melaksanakan  rukun Islam yang ketiga yakni berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Oleh orang Melayu, bulan Ramadhan disebut juga dengan bulan puasa.

Pada hari akhir penghujung bulan Ramadhan terdapat suatu tradisi khas yakni tujuh likur. Tradisi tujuh Likur dimulai dengan memasang pelita di halaman rumah yang dimulai pada malam satu likur atau malam dua puluh satu Ramadhan, hingga sampai malam puncaknya pada tujuh likur yakni malam dua puluh tujuh Ramadhan.

Tradisi tujuh likur untuk menyambut dan menyemarakkan malam Lailatul qadr yang dilakukan oleh masyarakat melayu lingga, sejalan dengan hadits dan pendapat sebagian ulama. Dalam satu hadis dinyatakan bahwa malam dua puluh tujuh Ramadhan sebagai malam terjadinya Lailatul qadr.

Dari Ibnu Umar, beberapa orang sahabat Nabi saw telah melihat (dalam mimpi) malam kemuliaan pada tujuh malam akhir Ramadhan. Lalu Rasul saw, bersabda: “Kuperhatikan impianmu itu tepat pada tujuh malam akhir Ramadhan, maka barang siapa hendak mencarinya amatilah pada malam itu.” (HR. Bukhari-Muslim)

Baca Juga :  Arab Saudi Menerima Jemaah Haji Dunia Pertama dari Indonesia

Dalam sejarah, setelah era Nabi, malam tujuh likur begitu istimewa di Mekkah, kita bisa melihat tradisi penduduk Makkah dibulan Ramadhan dalam Rihlah Ibnu Bathuthah yang dinyatakan, “Malam yang paling mulia bagi mereka adalah malam ke-27. Malam ini dirayakan dengan lebih meriah daripada malam-malam lain. Pada malam itu, Al-Qur’an dikhatamkan dibelakang Maqam Ibrahim.”

Dalam sejarah Melayu, sejak Islam menerangi alam Melayu, malam tujuh likur pun menjadi malam istimewa dan mulia dalam adat istiadat raja-raja Melaka.

Muhammad Syah sultan Melaka yang pertama masuk Islam menetapkan  adat istiadat kerajaan dalam menyambut malam tujuh likur  yang dalam Sulalatus  Salatin dikisahkan,

Baca Juga :  Rapor Merah Partai Politik Era Reformasi

“Syahdan jika malam dua puluh tujuh, tatkala pada siangnya mengarak sejadah ke masjid, Temenggung mengepalakan gajah; maka puan dan segala alat kerajaan dan gendang, semuanya diarak dahulu ke masjid. Setelah malam maka raja berangkat seperti adat hari sembahyang terawih, sudah itu berangkat kembali. Setelah esok harinya maka Laksamana mengarak serban, adat raja-raja Melayu berangkat ke masjid bertengkolok berbaju sarong, itulah yang jadi larangan pada orang kahwin; barang siapa yang dikurniai maka beroleh memakai dia; dan memakai cara Keling itu pun larangan lagi, melainkan barang siapa sedia pakaian, dapatlah dipakainya sembahyang dan kahwin.” (Shamad Ahmad 1979:74)

Suasana sepuluh hari terakhir Ramadha…

Share :

Baca Juga

Opini

Parpol Mandul dan Mahasiswa Hanya Berisik di Medsos, Soe Hok Gie Ada Benarnya

Opini

State of Emergency Jika Pemilu 2024 Ditunda

Opini

Dunia Dipenuhi Konflik Militer, Apa Kita Harus Menunggu Kemunculan Avatar?

Opini

Masalah Bebasnya Napi Korupsi

Opini

Habis Manis, Puntung Rokok Dibuang Sembarangan

Opini

Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita

Opini

Dokter Masa Kini: Altruisme atau Profesionalisme?

Opini

Partai-partai Indonesia Ternyata Menjalin Kerja Sama dengan Partai Komunis Cina