Home / Opini

Kamis, 28 Juli 2022 - 07:42 WIB

Peluang Kampanye Pemilu di Kampus

Ilustrasi Kampanye pemilu. Medcom.id

Ilustrasi Kampanye pemilu. Medcom.id

AMORFATIMEDIA.COM – Kampanye pemilu di kampus betapa pun bukan tanpa kelemahan, berpeluang menjadi jembatan penghubung kebutuhan untuk menciptakan sinergi antara intelektual dan politikus.

Tanggung jawab etis kedua pihak dapat mendekatkan proses politik pada ideal deliberasi yang bertumpu pencermatan kritis warga terkait dengan pilihan politik yang tersedia saat pemilu dan setelahnya.

Kampus dan masalah sosial

Kampanye pemilu di kampus-kampus bukanlah hal aneh. Banyak negara demokrasi di dunia menangkap praktik tersebut sebagai bagian pendidikan politik dan diskursus yang memperkaya pengetahuan warga, sebelum mereka menentukan pilihan di kotak suara.

Kampus telah lama pula muncul sebagai alternatif kritikal yang menjadi penyeimbang kekuatan politik di berbagai tempat.

Di Amerika Serikat, misalnya, sudah puluhan tahun debat antarkandidat diselenggarakan di kampus, termasuk jelang Pemilu 2020. Dalam forum semacam itu, para kandidat tidak hanya mengukur popularitas mereka, melainkan juga menguji posisi politik dan tawaran kebijakan mereka.

Baca Juga :  MPR Wacanakan Kepala Daerah Dipilih oleh DPR dan DPRD

Hal itu turut memberi kandidat bekal penting sebelum memasuki periode krusial penentu nasib politik mereka.

Kendati begitu, sebagian pihak mengkhawatirkan bahwa kampanye di kampus itu akan berdampak negatif. Yang paling sederhana, kampanye dianggap potensial mengganggu ketertiban kampus.

Lebih daripada itu, kampanye dipandang dapat mendegradasi posisi kampus sebagai center of excellence untuk mengembangkan kajian dan praktik terbaik dalam berbagai bidang keilmuan.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Kontestasi kekuasaan kadang menciptakan perkubuan yang sulit dijembatani sehingga berdampak memecah belah.

Praktik-praktik culas dalam permainan kuasa juga jauh dari standar integritas yang menjadi acuan etis pengembangan ilmu pengetahuan. Adagium bahwa politik itu kotor, semakin menjauhkan sivitas akademika dari proses politik yang ada.

Gugatan klasik sastrawan WS Rendra dalam Sajak Sebatang Lisong terasa kontekstual di sini, ‘Apa artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan?’

Baca Juga :  Honor Badan Ad Hoc Pemilu 2024 Naik: Ketua KPPS Rp1,2 Juta

Tidak sebatas kontestasi kekuasaan, politik menyediakan sarana untuk membicarakan masalah bersama warga. Menjauhkan kampus dari politik, justru mengumpulkan kemampuan lembaga pendidikan untuk menemukan alternatif solusi masalah.

Kampus-kampus perlu terpapar masalah-masalah; bukan untuk menambah kompleksitas persoalan, melainkan agar penghuni kampus tidak terisolasi dan kehilangan kepekaan sosial mereka.

Jika kita percaya, seperti kata Soedjatmoko, pendidikan menjadi sarana belajar suatu bangsa untuk memajukan peradabannya, semestinya pendidikan politik berperan penting dalam upaya tersebut.

Keliru pula untuk menempatkan intelektual kampus sebagai sekadar sapu untuk membersihkan masalah yang ditimbulkan para politikus.

Sinergi keduanya ialah suatu kebutuhan agar suntikan etis dalam praktik politik mampu menghasilkan kebijakan-kebijakan yang sesuai kebutuhan warga. Kampanye pemilu di kampus dapat menjadi jembatan penghubung kebutuhan tersebut.

Selanjutnya: Kampanye bertanggung jawab…

Share :

Baca Juga

Opini

Misteri Segitiga Bermuda dan Teori Keberadaannya

Opini

Filosofi Kopi dan Seni Memaknai Hidup

Opini

Tangkap Predator Seksual

Opini

Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita

Opini

Parpol Mandul dan Mahasiswa Hanya Berisik di Medsos, Soe Hok Gie Ada Benarnya

Opini

Terapi Shalat untuk Penderita Stroke

Opini

Menakar Risiko Fiskal 2023

Opini

Kutipan Bijak Sok Tahu “Kalau Orang Lain Bisa, Kita Pasti Bisa”