Home / Opini

Selasa, 31 Mei 2022 - 06:42 WIB

Penjaga Perdamaian PBB dan Peran Pasukan Indonesia di Dalamnya

Batalion Indonesia yang tergabung dalam Pasukan Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) menggelar patroli di sepanjang perbatasan Lebanon dan Israel pada 23 April 2020. (UN/Pasqual Gorriz)

Batalion Indonesia yang tergabung dalam Pasukan Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) menggelar patroli di sepanjang perbatasan Lebanon dan Israel pada 23 April 2020. (UN/Pasqual Gorriz)

AMORFATIMEDIA.COM – Setiap tanggal 29 Mei dunia memperingati Hari Internasional Penjaga Perdamaian PBB. Meski yang paling umum disorot sering kali muncul dari segi militer, sebenarnya pasukan penjaga perdamaian itu sendiri melibatkan ragam posisi non-militer, mulai dari Majelis Umum, Sekretariat, Dewan dan Keamanan, hingga polisi PBB.

Dalam istilah lain, berbagai pihak yang terlibat baik dari segi militer atau non-militer dan menjadi bagian dari pasukan penjaga perdamaian PBB juga dikenal dengan sebutan pasukan Helm Biru, atau Blue Helmets.

Secara singkat, keberadaan pasukan penjaga perdamaian ini pertama kali dimulai pada tahun 1948, ketika Dewan Keamanan PBB mengerahkan pasukan pengamat militer ke kawasan Timur Tengah, untuk membentuk Organisasi Pengawasan Gencatan Senjata PBB (UNTSO) guna memantau Perjanjian Gencatan Senjata antara Israel dengan tetangga-tetangga Arabnya, yang masih berlangsung hingga saat ini.

Selama 70 tahun terakhir, lebih dari 1 juta pria dan wanita telah bertugas di bawah bendera PBB sebagai pasukan Helm Biru di lebih dari 70 operasi penjaga perdamaian PBB. Dan ada lebih dari 100.000 personel militer, polisi, dan sipil dari 125 negara anggota yang saat ini bertugas di 14 operasi penjaga perdamaian, salah satunya Indonesia.

Tugas pasukan perdamaian PBB

Tidak hanya menangani konflik berkepanjangan yang terjadi di Israel dan negara sekitarnya, seiring berjalannya waktu peran pasukan penjaga perdamaian PBB juga turut andil dalam menjaga sekaligus menciptakan perdamaian, dari sederet potensi konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Selain tugas utama menjaga dan menciptakan perdamaian, secara spesisifk pasukan militer Helm Biru juga memiliki tugas tak kalah penting lainnya yang terdiri dari:

  • Mencegah pecahnya konflik atau meluasnya konflik lintas batas,
  • Perlucutan senjata, demobilisasi, dan reintegrasi mantan gerilyawan,
  • Menstabilkan situasi konflik setelah gencatan senjata, untuk menciptakan lingkungan bagi para pihak untuk mencapai kesepakatan perdamaian yang berkelanjutan,
  • Membantu melaksanakan perjanjian perdamaian yang komprehensif,
  • Reformasi sektor keamanan dan kegiatan terkait aturan hukum lainnya,
  • Perlindungan dan promosi hak asasi manusia, dan
  • Mendukung agenda pembangunan serta pemulihan ekonomi.

Saat ini diketahui ada lebih dari 97.000 personel berseragam PBB yang berasal dari lebih dari 120 negara. Mereka datang dari berbagai negara tanpa memandang latar belakang mulai dari besar dan kecil, kaya dan miskin.

Semua personel militer yang berada di bawah naungan Helm Biru PBB nyatanya adalah anggota militer terbaik jika dilihat dari posisinya sebagai tentara nasional di negara asalnya sendiri. Bukan tanpa alasan, hal tersebut lantaran medan dan situasi yang dialami dalam menangani konflik internasional nyatanya sudah pasti lebih pelik, terpencil, serta jauh lebih berbahaya dan menantang dibanding konflik nasional yang biasa mereka hadapi di dalam negeri.

Yang menarik, disebutkan bahwa saat ini mayoritas pasukan Helm Biru PBB sendiri berasal dari negara-negara Afrika dan Asia. Walau seiring berjalannya waktu, kontribusi personel dari negara-negara barat juga semakin meningkat.

Peran besar Indonesia

Bicara mengenai kontribusi atau peran Indonesia dalam pasukan Penjaga Perdamaian PBB, ada hal menarik sekaligus membanggakan yang perlu diketahui. Mengutip Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2022, yang dipublikasi pada hari Kamis (6/1/2022), diketahui bahwa Indonesia menjadi negara pengirim personel penjaga perdamaian terbanyak ke-7 di dunia, dari 125 negara anggota.

Posisi tersebut juga meningkat atau naik dari peringkat ke-8 yang sudah diperoleh selama tiga tahun terakhir. Menariknya tidak hanya laki-laki, rupanya ada banyak pasukan perdamaian Indonesia yang berasal dari kalangan perempuan.

Satgas Yon Komposit Konga itu merupakan misi Satgas TNI pertama yang bertugas menjadi pasukan perdamaian PBB. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Pasukan perdamaian atau yang dikenal juga dengan istilah peacekeepers perempuan Indonesia disebutkan naik dari 5,9 persen pada tahun 2020, menjadi 6,7 persen pada tahun 2021. Terakhir di akhir tahun 2021 kemarin, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi juga menyampaikan komitmen untuk kembali menambah sebanyak 1.000 personel dan penguatan kapasitas peacekeepers.

Lebih detail personel tambahan tersebut akan dilakukan pada tahun 2022 ini dengan mengirimkan sebanyak lima satgas militer dengan total 950 personel dan satu satgas polisi dengan total 198 personel.

Sementara itu untuk saat ini, disebut ada 2.800 personel Indonesia yang bertugas di sebanyak 8 misi perdamaian PBB, dari seluruh 14 misi perdamaian. Adapun 8 nama misi yang dimaksud beserta wilayah operasinya terdiri dari UNIFIL (Lebanon), UNAMID (Darfur,Sudan), MINUSCA (Repubik Afrika Tengah), MONUSCO (Republik Demokratik Kongo), MINUSMA (Mali), MINURSO (Sahara Barat), UNMISS (Sudan Selatan), dan UNISFA (Abyei, Sudan).

Penulis: Siti Nur Arifa

Share :

Baca Juga

Opini

G.J. Resink Bongkar Mitos Indonesia Dijajah 350 Tahun oleh Belanda

Opini

Dunia Dipenuhi Konflik Militer, Apa Kita Harus Menunggu Kemunculan Avatar?

Opini

Mengenal Tujuh Likur, Tradisi Bulan Ramadhan Masyarakat Melayu Lingga Kepri

Opini

Menjaga “Nyala Api” Pemikiran Buya Syafii Maarif

Opini

Masalah Bebasnya Napi Korupsi

Opini

Masa Depan Agama di Era Internet, Sains, dan Kemajuan Teknologi

Opini

Rapor Merah Partai Politik Era Reformasi

Opini

Partai-partai Indonesia Ternyata Menjalin Kerja Sama dengan Partai Komunis Cina