Home / Advertorial

Rabu, 13 April 2022 - 07:52 WIB

Piswan DPRD Lingga Padukan Nuasa Islam dengan Budaya Pada Pekan MTQ 2022

Persatuan Istri Anggota Dewan (Piswan) DPRD  Lingga menggunakan pakaian adat perempuan Melayu tudung manto pada pekan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-IX Tingkat Kabupaten Lingga 2022/ amorfatimedia.com

Persatuan Istri Anggota Dewan (Piswan) DPRD Lingga menggunakan pakaian adat perempuan Melayu tudung manto pada pekan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-IX Tingkat Kabupaten Lingga 2022/ amorfatimedia.com

AMORFATIMEDIA.COM – Pekan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-IX Tingkat Kabupaten Lingga 2022 menjadi perhelatan islami yang berpadu dengan kebudayaan. Kali ini,  Persatuan Istri Anggota Dewan (Piswan) DPRD Kabupaten Lingga memamerkan kelengkapan pakaian adat perempuan Melayu Tudung Manto.

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-IX Tingkat Kabupaten Lingga berlangsung selama dua hari mulai Sabtu 19 Maret 2022 hingga Minggu 20 Maret 2022 bertempat di Kecamatan Singkep Pesisir, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.

Ketua Persatuan Istri Dewan (Piswan) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lingga, Lina Nashiruddin mengatakan, pihaknya mengenakan penutup kepala Tudung Manto bertujuan untuk mempromosikan keelokan Tudung Manto pada masyarakat khususnya generasi muda kaum perempuan.

“Diharapkan dapat mempromosikan dan memperlihatkan kepada anak muda penerus agar dapat turut serta mengembangkan dan bangga terhadap Tudung Manto,” ujar Lina Nashiruddin yang merupakan istri dari Ketua DPRD Kabupaten Lingga Ahmad Nashiruddin.

Tudung Manto bisa menjadi salah satu produk unggulan untuk dipromosikan ke daerah-daerah sebagai salah satu produk lokal yang sangat cocok untuk dijadikan buah tangan ataupun souvenir bagi yang berkunjung ke kabupaten Lingga.

Pelestarian Pemakaian Tudung Manto

Persatuan Istri Dewan (Piswan) DPRD Lingga mengaku sangat mendukung program pemerintah daerah dalam melestarikan Tudong Manto dalam setiap kegiatan atau even-even yang di selenggarakan baik oleh Kabupaten maupun Provinsi, dengan demikian  diharapkan Tudong Manto bisa lebih dikenal oleh masyarakat baik lokal maupun mancanegara.

Lina mengajak seluruh elemen masyarakat khususnya kaum perempuan generasi muda untuk dapat menjaga dan melestarikan Tudong Manto menjadi identitas  wanita melayu khususnya Kabupaten Lingga. Bangga memakai dan memperkenalkan produk lokal kebanggaan Kabupaten Lingga. “Bertudong Manto Berkain dagang itulah perempuan Melayu“.

Ketua Piswan itu menceritakan salah satu upaya yang dilakukannya yakni ketika mengikuti kegiatan Festival Tutup Kepala Perempuan Nusantara. Ia memperkenalkan apa itu Tudung Manto, mulai dari history, cara pakai dan proses pembuatan Tudung Manto.

Baca Juga :  Sah! MK Putuskan Anwar Usman Mundur dari Kursi Ketua

“Tentunya dengan semakin banyak pengrajin tenun Tudung Manto maka produksi Tudung Manto itu sendiri akan banyak dan memiliki stok. Tudung Manto banyak diminati oleh wisatawan yang datang ke Lingga. Dan itu salah satunya dapat meningkatkan perekonomian khususnya para pengrajin Tudung Manto,” kata Lina

Persatuan Istri Anggota Dewan (Piswan) DPRD Kabupaten Lingga memamerkan kelengkapan pakaian adat perempuan Melayu tudung manto pada pekan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-IX Tingkat Kabupaten Lingga 2022

Tudung Manto memiliki ciri yang khas dan sangat melekat dengan budaya melayu Lingga. Dalam pembuatannya, untuk dapat menghasilkan satu helai Tudung Manto memerlukan keterampilan, kesabaran dan ketelitian serta membutuhkan waktu yang tidak singkat.

“Ibu Syarifah Puspawati Agusmarli merupakan salah satu pengrajin Tudung Manto, beliau telah memproduksi beberapa Tudung Manto,” ujar Lina

Pemerintah Kabupaten Lingga beberapa waktu menggelar pelatihan pengrajin tenun Tudung Manto yang dilaksanakan di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Lingga. Selain dalam upaya mendukung pelestarian Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2015 lalu juga untuk meningkatkan jumlah produksi Tudung Manto.

Bupati Lingga pada kegiatan itu menargetkan sebanyak 100 orang pengrajin tenun Tudung Manto di tahun 2022.

Bupati Lingga Muhammad Nizar, mengatakan sebelum diadakan pelatihan pengrajin Tudung Manto, ia mencatat hanya terdapat 20 orang pengrajin Tudung Manto. Hal itu diungkapkan Bupati Lingga Muhammad Nizar pada 13 November 2021 lalu saat membuka secara resmi kegiatan Fashion Show Tudung Manto yang ditaja oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga, di Taman Tanjung Buton, Daik Lingga.

“Saat ini hanya tersisa 20 pengrajin, dan untuk kedepannya harus mendapat penambahan jumlah pengrajin, untuk peningkatan jumlah produksinya,” kata Bupati Lingga Muhammad Nizar.

Untuk melestarikan dan meningkatkan jumlah prosuksi Tudung Manto, Nizar meminta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Lingga bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Lingga untuk bergandengan melakukan upaya menciptakan pengrajin-pengrajin baru Tudung Manto dan meningkatkan jumlah produksi Tudung Manto.

Baca Juga :  Gelar Wisuda PAUD Pertama, Kades Keton Lingga: Pendidikan Itu Penting

Pemerintah Daerah Kabupaten Lingga dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lingga sepakat mengajak seluruh elemen masyarakat Kabupaten Lingga yang dijuluki Bunda Tanah Melayu ini untuk melestarikan dan mempromosikan Tudung Manto kedaerah luar, nasional maupun internasional.

Kegiatan ini juga difungsikan untuk memotivasi masyarakat guna mempertahankan maupun mencintai produk lokal yang merupakan khazanah kebudayaan Melayu. Selain itu, pelatihan pembuatan Tudung Manto juga dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan.

Warisan Budaya Tak Benda dari Melayu Lingga

Tudung manto berasal dari kata tudung, yang artinya tutup kepala, sedangkan manto merupakan sulaman atau bordiran yang menggunakan pelingkan atau benang khusus untuk manto. Tutup kepala itu diperkirakan sudah ada sejak tahun 1755 silam, dimana saat itu merupakan zaman Kerajaan Riau Lingga berkuasa di semenanjung Melayu.

Tudung Manto telah mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Kementerian Hukum dan HAM sejak 2010 dengan pengakuan secara perorangan atau pribadi. Dan seiringnya waktu, pada tahun 2021 Hak Cipta atas Tudung Manto kini melekat pada pemerintah Kabupaten Lingga.

Penghargaan tersebut diberikan dalam rangka perlindungan Pengetahuan Tradisonal berdasarkan Undang-undang Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Ketua Persatuan Istri Dewan (Piswan) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lingga, Lina Nashiruddin pakaian adat perempuan Melayu Tudung Manto

Pemakaian tudung manto dilatarbelakangi oleh norma yang berlaku dalam masyarakat Melayu Daik. Bagi orang Melayu Daik, kepala adalah bagian tubuh yang paling penting karena kepala merupakan sumber pemikiran. Bagi orang Melayu Daik, berpikir adalah faktor kunci pembeda antara manusia dengan hewan.

Bagi orang Melayu Daik menutup kepala merupakan hal yang penting. Aturan menutup kepala diperkuat oleh ajaran Islam yang me- wajibkan menutup kepala bagi perempuan dan sunnah bagi laki-laki. Oleh karena itu, bagi orang Melayu Daik, menutup kepala merupakan salah satu wujud kepatuhan kepada ajaran agama dan adat. Kepatuhan tersebut adalah sesuatu yang penting, sebagaimana pepatah Melayu berbunyi “Hidup berselimut adat, mati berkaffan iman”.

Penulis: Pursyahdad
Editor: Pramonco

Share :

Baca Juga

Advertorial

Tingkatkan Ekonomi Masyarakat, Pemdes Keton Gelar Diversifikasi Anggur

Advertorial

Lingga Unjuk Gigi, Olah Mata Air Gunung Jadi Air Mineral Kemasan

Advertorial

Gelar Wisuda PAUD Pertama, Kades Keton Lingga: Pendidikan Itu Penting