Home / Opini

Senin, 23 Mei 2022 - 09:16 WIB

Semiotika Kebencian

Ilustrasi BBC

Ilustrasi BBC

AMORFATIMEDIA.COM – Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Prof. Budi Santosa Purwakartiko (BSP), yang dianggap telah melakukan pelecehan terhadap agama (Islam) akhirnya dipolisikan oleh Pengurus Wilayah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Kaltimtara (www.detik.com, 07/05/2022).

Saya pikir, ini memang hal yang seharusnya dilakukan. Dari sisi konten bahasa, apa yang dilakukan BSP telah memenuhi syarat untuk disebut sebagai kasus SARA. BSK telah melakukan ujaran kebencian terhadap ajaran Islam.

Secara semiotis, berikut saya kemukakan analisis singkat terkait hal itu, untuk dua tujuan. Pertama, menanggapi sanggahan BSP atas kesimpulan publik terhadap ucapannya. Kedua, mencoba membantu pihak terkait dalam menangani perkara ini.

Sebagaimana banyak diberitakan media, diksi utama yang dipermasalahkan adalah “manusia gurun” yang digunakan BSP untuk menyebut orang yang memakai “tutup kepala”.

Ungkapan ini kemudian disimpulkan banyak pihak bahwa tutup kepala yang dimaksud adalah “jilbab, hijab, kerudung, cadar, dan lain-lain” yang identik dengan “penutup aurat perempuan” dalam syariat Islam.

Baca Juga :  Partai-partai Indonesia Ternyata Menjalin Kerja Sama dengan Partai Komunis Cina

BSP telah melakukan klarifikasi dan menyanggah tuduhan tersebut (www.detik.com, 07/05/2022). Menurutnya ia tidak bermaksud mendiskriminasi dan merendahkan orang yang memakai jilbab. Respons atas ucapannya, menurut BSP, merupakan kesalahpahaman.

BSP berujar, “Mereka itu sangat salah paham. Saya menggunakan (kalimat) yang jadi masalah kan, mereka tidak ada yang pakai kerudung ala manusia gurun kan ya?. Jadi maksud saya tidak seperti orang-orang yang pakai tutup-tutup, kaya orang Timur Tengah yang banyak, pasir, angin, panas gitu, ya”.

BSP juga menambahkan “…di situ saya tidak ada kata-kata bahwa yang menggunakan kerudung saya akan nilai jelek atau saya ini nggak ada loh. Saya ngomong seperti itu sama sekali tidak ada. Saya hanya menceritakan bahwa kebetulan dari 12 itu tidak ada yang pakai kerudung”.

Akan halnya ungkapan di status FB tersebut menjadi heboh, menurut BSP hal itu merupakan konsekuensi bahasa tulis yang dijadikan alat oleh beberapa oknum untuk memvonis dirinya telah merendahkan wanita yang mengenakan kerudung.

Baca Juga :  Jual Beli Motor Bekas Resmi Kena Pajak 1,1 Persen

“Itu konsekuensi dari bahasa tulis ya. Mungkin persepsinya akan berbeda-beda ya. Tapi banyak yang memotong, maksudnya men-screenshot kemudian di kasih pengantar seakan-akan saya tidak adil, diskriminatif. Itu yang menurut saya, saya sayangkan. Dan orang tidak membaca tulisan aslinya,” demikian dikatakan BSP.

Klarifikasi yang dikemukakan BSP di atas sebenarnya standar, yakni bantahan umum dari pihak yang melakukan tindakan kesalahan (atau diduga bersalah), yakni bahwa dirinya tidak berniat untuk merendahkan orang yang berkerudung.

Sudah pasti kita tidak bisa mendeteksi niat seseorang sebab niat terletak di dalam hati. BSP memang mengatakan bahwa ia tidak menggunakan kata “kerudung”, melainkan “tutup kepala”. Namun, hal ini tidak berarti ia tidak memaksudkannya demikian.

Share :

Baca Juga

Opini

Apa Perbedaan antara ”Bundar” dan ”Bulat”

Opini

Misteri Segitiga Bermuda dan Teori Keberadaannya

Opini

Dunia Dipenuhi Konflik Militer, Apa Kita Harus Menunggu Kemunculan Avatar?

Opini

Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita

Opini

Hanya Megawati yang Bisa “Meredam” Kim Jong Un

Opini

Mahasiswa Manja! Efek Kuliah Online

Opini

Parpol Mandul dan Mahasiswa Hanya Berisik di Medsos, Soe Hok Gie Ada Benarnya

Opini

G.J. Resink Bongkar Mitos Indonesia Dijajah 350 Tahun oleh Belanda