Home / Dunia

Kamis, 16 Juni 2022 - 16:20 WIB

WHO Akan Kaji Status Cacar Monyet

Ilustrasi REUTERS

Ilustrasi REUTERS

AMORFATIMEDIA.COM – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan menggelar sidang komite darurat pada 23 Juni untuk membahas wabah cacar monyet. Para ahli WHO akan memutuskan apakah wabah cacar monyet akan mendapat status darurat untuk tingkat internasional dengan label Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).

Meski status PHEIC dibahas komite darurat, namun keputusan akhir ada di tangan direktur jenderal (dirjen) WHO. Status ini adalah peringatan tertinggi yang dikeluarkan WHO. Kini status PHEIC hanya berlaku untuk Covid-19 dan polio. Pada 2014, status itu diberikan pada Ebola.

Pada Selasa (14/6), Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, WHO harus bertindak cepat karena virus penyebab cacar monyet berprilaku tidak seperti biasa. Saat ini lebih banyak negara yang terdampak. Ia menekankan pentingnya koordinasi internasional.

Cacar monyet menjadi endemi di sejumlah wilayah Afrika. Namun, kasus kian bertambah di luar wilayah tersebut hanya dalam hitungan bulan. Virus penyebab cacar monyet ini menimbulkan gejala seperti flu dan lesi pada kulit. Penularan penyakit terjadi melalui kontak dekat.

“Kami tidak ingin menunggu sampai situasi menjadi tidak terkendali,” kata Direktur Kedaruratan WHO untuk Afrika, Ibrahima Socé Fall.

Sejak beberapa pekan lalu, para ahli telah mendesak WHO untuk segera bertindak. Sebelumnya WHO juga dikritik lamban saat menanggapi awal pandemi Covid-19. Penetapan WHO bahwa sebuah wabah berstatus darurat kesehatan global dapat membantu percepatan riset dan pendanaan untuk menangani penyakit.

Baca Juga :  Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita

Saat ini lebih dari 1.600 kasus cacar monyet sudah ditemukan di 39 negara non-endemik. WHO pun mencatat terdapat hampir 1.500 kasus yang dicurigai.

Menurut WHO, cacar monyet dinyatakan fatal pada 3 hingga 6 persen kasus. Kematian dilaporkan terjadi di Afrika, dengan jumlah terbanyak di Kongo. Sejauh ini, sebanyak 72 kematian sudah dilaporkan.

Namun, tidak satu pun dari kasus kematian terjadi di negara yang baru terkena dampak penyebaran. Saat ini kasus cacar monyet dilaporkan ada di Inggris, Kanada, Italia, Polandia, Spanyol, dan Amerika Serikat.

Dua sampel kasus dugaan monkeypox pergi melalui proses ekstraksi asam nukleat seperti yang mereka uji di laboratorium mikrobiologi di La Paz rumah Sakit di Madrid, Spanyol, 1 juni 2022. REUTERS

WHO kini menyiapkan mekanisme berbagi vaksin cacar monyet di lebih dari 30 negara di luar Afrika. Menurut Tedros, mekanisme ini akan siap dalam hitungan pekan. Namun, rencana ini dikritik para ahli karena memungkinkan negara kaya mendapat vaksin meski mereka mampu membeli sendiri.

Vaksin untuk cacar biasa diperkirakan efektif 85 persen terhadap cacar monyet. Direktur WHO untuk Eropa Dr Hans Kluge mengaku khawatir bahwa negara kaya akan memborong vaksin cacar tanpa mempertimbangkan vaksin untuk Afrika.

Kluge mendesak pemerintah dunia “Untuk mengambil pendekatan tanpa mengulangi kesalahan pada pandemi (Covid-19).”

Ganti nama

WHO juga akan mengganti nama penyakit cacar monyet dengan istilah baru. Hal itu diumumkan di tengah kekhawatiran atas stigma dan rasialisme di sekitar nama penyakit tersebut dan virus penyebabnya. “(WHO) bekerja dengan para mitra dan pakar dari seluruh dunia untuk mengubah nama virus penyebab cacar monyet, klad, serta penyakit yang ditimbulkannya,” kata Tedros, Selasa.

Baca Juga :  Konsumsi Buah Ini untuk Memperlambat Penuaan Otak

Dia mengungkapkan, WHO akan mengumumkan daftar nama baru untuk virus dan penyakit cacar monyet sesegera mungkin. Pengumuman Ghebreyesus muncul kurang dari sepekan setelah lebih dari 30 ilmuwan internasional menulis dalam sebuah makalah bahwa ada kebutuhan mendesak untuk “nomenklatur non-diskriminatif dan non-stigma” bagi virus cacar monyet.

Saat ini WHO mencantumkan dua jenis klad (virus penyebab cacar monyet) di situs webnya, yakni klad Afrika Barat dan klad Kongo Basin (Afrika Tengah). Dalam makalahnya, para ilmuwan internasional mengatakan, seperti banyak label geografis sebelumnya tentang penyakit menular berdasarkan lokasi pendeteksian pertama, hal itu bisa menyesatkan dan tidak akurat.

Dalam proposal mereka, para ilmuwan mengusulkan klasifikasi baru cacar monyet yang selaras dengan praktik terbaik dalam penamaan penyakit menular. Tujuannya agar “meminimalkan dampak negatif yang tidak perlu pada negara, wilayah geografis, ekonomi, dan manusia, serta mempertimbangkan evolusi dan penyebaran virus.”

Sumber : Reuters/Associated Press

Dapatkan update breaking news dan berita pilihan setiap hari dari Amorfatimedia.com di Google caranya Klik di Sini

Share :

Baca Juga

Dunia

Bikin curiga Rusia, Jurnalis Rusia Temukan Indomie di Bekas Markas Pasukan Ukraina

Dunia

Miris! Pria Ini Bunuh Istri karena Ogah Diomeli

Dunia

Bentrok dengan Polisi Israel di Masjid Al Aqsa, 67 Warga Palestina Terluka

Dunia

Hari Ini, Arab Saudi Evakuasi Warga dari RI

Dunia

Barat dan Cina Bersaing Himpun Kekuatan, Kerja Sama Global Kian Rumit

Dunia

AS tangkap ketua Yakuza yang mencari rudal untuk pemberontak di Myanmar dan Sri Lanka

Dunia

Politikus Anti-Islam Bakar Al-Qur’an, Picu Kerusuhaan Besar di Swedia
Charlie Watts

Dunia

Drummer Rolling Stones Meninggal pada usia 80 tahun